Minggu, 11 Januari 2026

SASTRA RAKYAT

 A.      Pengertian

Salah satu bentuk sastra yang tidak bisa dilewatkan ketika berbicara tentang sastra klasik adalah sastra rakyat atau folklore. Adapun yang dimaksud dengan sastra rakyat adalah karya sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dari mulut ke mulut, mencakup cerita rakyat, dongeng, legenda, mitospantunperibahasateka-teki, dan lagu-lagu tradisional yang kaya nilai moral, adat, dan sejarah suatu masyarakat, meskipun kini banyak yang telah dicatat dalam tulisan. Bentuknya beragam, seperti narasi, puisi, atau lagu, yang berfungsi melestarikan budaya dan membimbing generasi muda.

 

B.       Ciri-ciri Sastra Rakyat

James Danandjaja (1972) merumuskan ciri-ciri sastra rakyat sebagai berikut.

1.    Penyebaran Lisan & Turun-temurun: Disampaikan dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2.    Anonim: Pencipta aslinya sudah tidak diketahui lagi.

3.    Bersifat Tradisional: Tersebar dalam bentuk relatif tetap atau standar di suatu kolektif.

4.    Bervariasi (Banyak Versi): Karena lisan, mudah berubah, sehingga muncul banyak versi cerita yang sama.

5.    Berpola/Berformula: Memiliki pola atau rumus baku, seperti kalimat pembuka ("Pada zaman dahulu...") atau ulangan.

6.    Memiliki Fungsi/Kegunaan: Bermanfaat sebagai alat pendidikan, pelipur lara, hiburan, atau protes sosial.

7.    Bersifat Pralogis: Mengandung logika yang tidak sesuai logika umum, seringkali dengan unsur magis.

8.    Milik Bersama (Kolektif): Dianggap sebagai milik seluruh masyarakat pemiliknya.

9.    Polos & Lugas: Seringkali terlihat sederhana, kasar, atau spontan. 

 

C.       Bentuk-bentuk Sastra Rakyat

1.      Mantra

2.      Pantun

1.        Mantra

2.        Pantun

Pantun merupakan puisi yang memiliki ciri-ciri berikut.

a.    Terdiri atas empat baris per bait: Setiap bait pantun tersusun dari empat larik atau baris.

b.    Suku Kata Teratur: Setiap baris pantun memiliki jumlah suku kata antara 8 hingga 12 suku kata.

c.    Pola Sajak a-b-a-b: Bunyi akhir setiap baris berpola a-b-a-b, artinya baris pertama bersajak dengan baris ketiga, dan baris kedua bersajak dengan baris keempat (misal: kebun/rabun, parang/terang).

d.   Sampiran dan Isi.

Sampiran: Baris pertama dan kedua yang berfungsi sebagai pengantar atau pembuka.

Isi: Baris ketiga dan keempat yang berisi pesan utama atau makna yang ingin disampaikan.

Contoh Pantun (untuk memahami strukturnya):

Jalan-jalan ke pasar baru (a)

Jangan lupa membeli pepaya (b)

Kalau kamu ingin tahu (a) (Isi)

            Lihatlah dengan mata kepala (b) (Isi) 

3.      Pantun Berkait

4.      Talibun

5.      Pantun Kilat

6.      Gurindam

7.      Syair

      Syair merupakan bentuk puisi klasik yang merupakan pengaruh kebudayaan Arab. Adapun ciri-ciri syair sebagai berikut.

a.    Terdiri 4 Baris per Bait: Setiap bait syair selalu memiliki empat baris (larik).

b.    Rima Akhir a-a-a-a: Bunyi akhir dari setiap baris pada satu bait sama semua (a-a-a-a).

c.    Semua Baris adalah Isi: Tidak ada sampiran seperti pada pantun; seluruh baris berisi makna atau pesan penting.

d.   Jumlah Suku Kata: Setiap baris umumnya memiliki 8 hingga 14 suku kata.

e.    Isi dan Makna: Berisi cerita (sejarah, agama, mitos), nasihat, petuah, atau perumpamaan (kiasan).

Bahasa Kiasan: Sering menggunakan bahasa yang tidak langsung (kiasan), seperti burung, bunga, atau alam untuk menyampaikan pesan.

8.      Fabel

9.      Legenda