A. Pengertian
Salah
satu bentuk sastra yang tidak bisa dilewatkan ketika berbicara tentang sastra
klasik adalah sastra rakyat atau folklore. Adapun yang dimaksud dengan sastra
rakyat adalah karya sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dari mulut
ke mulut, mencakup cerita rakyat, dongeng, legenda, mitos, pantun, peribahasa, teka-teki, dan lagu-lagu tradisional yang kaya nilai moral,
adat, dan sejarah suatu masyarakat, meskipun kini banyak yang telah dicatat
dalam tulisan. Bentuknya beragam, seperti narasi, puisi, atau lagu, yang
berfungsi melestarikan budaya dan membimbing generasi muda.
B. Ciri-ciri Sastra
Rakyat
James
Danandjaja (1972) merumuskan ciri-ciri sastra rakyat sebagai berikut.
1. Penyebaran Lisan
& Turun-temurun: Disampaikan dari mulut ke mulut dari satu generasi ke
generasi berikutnya.
2. Anonim: Pencipta
aslinya sudah tidak diketahui lagi.
3. Bersifat
Tradisional: Tersebar dalam bentuk relatif tetap atau standar di suatu
kolektif.
4. Bervariasi
(Banyak Versi): Karena lisan, mudah berubah, sehingga muncul banyak versi
cerita yang sama.
5. Berpola/Berformula: Memiliki
pola atau rumus baku, seperti kalimat pembuka ("Pada zaman
dahulu...") atau ulangan.
6. Memiliki
Fungsi/Kegunaan: Bermanfaat sebagai alat pendidikan, pelipur lara,
hiburan, atau protes sosial.
7. Bersifat
Pralogis: Mengandung logika yang tidak sesuai logika umum, seringkali
dengan unsur magis.
8. Milik Bersama
(Kolektif): Dianggap sebagai milik seluruh masyarakat pemiliknya.
9. Polos &
Lugas: Seringkali terlihat sederhana, kasar, atau spontan.
C. Bentuk-bentuk
Sastra Rakyat
1. Mantra
2. Pantun
1.
Mantra
2.
Pantun
Pantun merupakan puisi yang memiliki ciri-ciri berikut.
a.
Terdiri atas empat baris
per bait: Setiap bait pantun tersusun dari empat larik atau baris.
b.
Suku Kata Teratur: Setiap
baris pantun memiliki jumlah suku kata antara 8 hingga 12 suku kata.
c.
Pola Sajak a-b-a-b: Bunyi
akhir setiap baris berpola a-b-a-b, artinya baris pertama bersajak dengan baris
ketiga, dan baris kedua bersajak dengan baris keempat (misal: kebun/rabun,
parang/terang).
d.
Sampiran dan Isi.
Sampiran: Baris pertama dan kedua yang berfungsi sebagai
pengantar atau pembuka.
Isi: Baris ketiga dan keempat yang berisi pesan utama
atau makna yang ingin disampaikan.
Contoh Pantun
(untuk memahami strukturnya):
Jalan-jalan ke
pasar baru (a)
Jangan lupa
membeli pepaya (b)
Kalau kamu ingin
tahu (a) (Isi)
Lihatlah dengan mata kepala (b) (Isi)
3. Pantun Berkait
4. Talibun
5. Pantun Kilat
6. Gurindam
7. Syair
Syair merupakan bentuk puisi klasik yang merupakan pengaruh kebudayaan Arab. Adapun ciri-ciri syair sebagai berikut.
a.
Terdiri 4 Baris per Bait: Setiap
bait syair selalu memiliki empat baris (larik).
b.
Rima Akhir a-a-a-a: Bunyi
akhir dari setiap baris pada satu bait sama semua (a-a-a-a).
c.
Semua Baris adalah Isi: Tidak
ada sampiran seperti pada pantun; seluruh baris berisi makna atau pesan
penting.
d.
Jumlah Suku Kata: Setiap
baris umumnya memiliki 8 hingga 14 suku kata.
e.
Isi dan Makna: Berisi
cerita (sejarah, agama, mitos), nasihat, petuah, atau perumpamaan (kiasan).
Bahasa Kiasan: Sering menggunakan bahasa yang tidak langsung (kiasan), seperti burung, bunga, atau alam untuk menyampaikan pesan.
8. Fabel
9. Legenda