Rabu, 18 Februari 2026

GURINDAM

 


A.    A.    Pengertian Gurindam

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gurindam adalah sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat (misalnya, baik-baik memilih kawan, salah-salah bisa jadi lawan). Gurindam merupakan bentuk puisi lama yang setiap baitnya terdiri atas dua baris kalimat dengan rima yang sama dan saling berhubungan (sebab-akibat).

B.     Ciri-ciri Gurindam

Gurindam memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1.      Terdiri atas bait-bait. Satu bait terdiri atas dua larik.

2.      Memiliki bunyi akhir yang sama dalam tiap akhir lariknya.

3.      Mengandung nasihat, petuah, atau filosofi hidup.

4.  Baris pertama merupakan syarat/masalah, baris kedua merupakan jawaban/akibat.


Rabu, 04 Februari 2026

TEKS SYAIR


A.   PENGERTIAN SYAIR

Salah satu bentuk kekayaan budaya itu ialah sastra Nusantara yang berbentuk syair. Kita harus mengenal, memahami, dan mengapresiasinya agar syair tetap lestari di bumi Nusantara, bumi Indonesia ini. Syair merupakan salah satu bentuk puisi rakyat Nusantara. Syair digunakan untuk berkisah atau bercerita dan untuk menyampaikan maksud tertentu. Misalnya, dalam adat orang Melayu, syair digunakan seorang jejaka untuk melamar seorang gadis.

Dari segi bahasa, syair menggunakan kata-kata dalam bahasa Melayu lama. Oleh karena itu, jika dibaca oleh orang zaman sekarang menjadi sulit dipahami. Namun, sekarang syair dapat dibuat dalam bahasa Indonesia dan digunakan dalam berbagai kegiatan berbahasa. Seperti halnya pantun, syair juga merupakan warisan budaya tak benda.

 

B.     CIRI-CIRI SYAIR

Adapun ciri-ciri syair sebagai berikut.

a.         Terdiri 4 Baris per Bait: Setiap bait syair selalu memiliki empat baris (larik).

b.        Rima Akhir a-a-a-a: Bunyi akhir dari setiap baris pada satu bait sama semua

c.        Semua Baris adalah Isi: Tidak ada sampiran seperti pada pantun; seluruh baris berisi makna atau pesan penting.

d.        Jumlah Suku Kata: Setiap baris umumnya memiliki 8 hingga 14 suku kata.

e.     Isi dan Makna: Berisi cerita (sejarah, agama, mitos), nasihat, petuah, atau perumpamaan (kiasan).

f.    Bahasa Kiasan: Sering menggunakan bahasa yang tidak langsung (kiasan), seperti burung, bunga, atau alam untuk menyampaikan pesan.

 

C.     MENGENAL RIMA DAN IRAMA SYAIR

Rima memiliki fungsi sebagai berikut.

1.      Menciptakan Musikalitas (Irama): Rima (terutama rima akhir a-a-a-a) menjadikan syair terasa merdu dan harmonis saat dibacakan, membentuk alur ritmis yang teratur.

2.      Memberi Keindahan Estetis: Keselarasan bunyi yang konsisten meningkatkan nilai artistik dan keindahan bentuk fisik syair.

3.   Memperkuat Makna dan Pesan: Pengulangan bunyi dapat menegaskan ide atau gagasan utama, membuat pesan terasa lebih mendalam dan fokus.

4.      Meningkatkan Daya Ingat: Pola rima yang teratur memudahkan pembaca atau pendengar untuk mengingat baris-baris syair.

5.      Membangun Suasana (Emosi): Keselarasan bunyi membantu menciptakan suasana tertentu—seperti tenang, syahdu, atau tegas—sesuai dengan isi cerita dalam syair.

6.      Struktur Formal: Rima menjadi pengikat utama dalam syair yang konsisten, memberikan rasa simetri dan keteraturan. 

 

Syair Perahu

Inilah gerangan suatu madah

Mengarangkan syair terlalu indah

Membetuli jalan tempat berpindah

Di sanalah iktikat diperbetuli sudah

 

Wahai muda kenali dirimu

lalah perahu tamsil hidupmu

Tiadalah berapa lama hidupmu

Ke akhirat jua kekal hidupmu

 

Hai muda arif budiman

Hasilkan kemudi dengan pedoman

Alat perahumu jua kerjakan

Itulah jalan membetuli insan

 

Perteguh jua alat perahumu

Hasilkan bekal air dan kayu

Dayung pengayuh taruh di situ

Supaya laju perahumu itu

 

Sudahlah hasil kayu dan ayar

Angkatlah pula sauh dan layar

Pada beras bekal jantanlah taksir

Niscaya sempurna jalan yang kabir

 

Karya: Hamzah Fansuri

 

Syair di atas terdiri 5 bait. Tiap-tiap bait  menggunakan rima akhir yang sama, yaitu a-a-a-a. Pada bait pertama, bunyi akhirnya ah semua sehingga syair itu memenuhi syarat syair. Pada bait kedua, larik-lariknya berakhir dengan –mu. Ini pun memenuhi syarat sebagai rima syair, yaitu a-a-a-a.

Selain rima, dalam syair juga ada irama. Apa yang dimaksud dengan irama? Irama adalah paduan bunyi yang menimbulkan musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan kesan suasana, serta makna tertentu (Aminuddin, 2013: 137). Untuk menemukan irama dalam syair dapat kita telusuri dari jumlah suku kata tiap lariknya. Mari kita simak kembali syair di atas! Kita analisis jumlah suku kata tiap lariknya.

Syair Melayu klasik, termasuk Syair Perahu, umumnya memiliki jumlah suku kata yang relatif tetap pada setiap baris, yaitu 8–12 suku kata. Pola ini menciptakan keteraturan bunyi dan mendukung irama yang mengalun.

·  Wahai muda kenali dirimu → ±11 suku kata

·  Ialah perahu tamsil hidupmu → ±11 suku kata

·  Tiadalah berapa lama hidupmu → ±12 suku kata

·  Ke akhirat jua kekal hidupmu → ±11 suku kata

D.    Membaca Teks Syair

Membaca syair adalah membaca puisi lama. Diperlukan pengetahuan yang cukup mendalam tentang syair itu sendiri. Berbeda dengan puisi modern yang bersifat bebas, syair memiliki aturan baku yang harus dipenuhi. Di antaranya, satu bait syair terdiri atas 4 larik. Berbeda dengan pantun yang memiliki sampiran dan isi, semua larik dalam syair merupakan isi. Semua larik dalam syair memiliki bunyi akhir yang sama.

Syair pada mulanya merupakan sastra lisan yang disampaikan dalam acara-acara tertentu. Saat manusia mengenal baca tulis, syair mulai dituliskan, diabadikan dalam bentuk tulisan sehingga dapat kita baca kembali kapan pun kita memerlukannya.

Syair merupakan puisi lama yang masih relevan untuk digunakan di masa kini. Bentuknya saja yang lama. Namun, bentuk lama tersebut dapat kita adopsi sebagai sarana penyampai pesan kepada siapa pun. Melalui pembelajaran membaca syair, kalian akan belajar menafsirkan, mengapresiasi, dan mengevaluasi teks syair yang dibaca.

Minggu, 11 Januari 2026

SASTRA RAKYAT

 A.      Pengertian

Salah satu bentuk sastra yang tidak bisa dilewatkan ketika berbicara tentang sastra klasik adalah sastra rakyat atau folklore. Adapun yang dimaksud dengan sastra rakyat adalah karya sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dari mulut ke mulut, mencakup cerita rakyat, dongeng, legenda, mitospantunperibahasateka-teki, dan lagu-lagu tradisional yang kaya nilai moral, adat, dan sejarah suatu masyarakat, meskipun kini banyak yang telah dicatat dalam tulisan. Bentuknya beragam, seperti narasi, puisi, atau lagu, yang berfungsi melestarikan budaya dan membimbing generasi muda.

 

B.       Ciri-ciri Sastra Rakyat

James Danandjaja (1972) merumuskan ciri-ciri sastra rakyat sebagai berikut.

1.    Penyebaran Lisan & Turun-temurun: Disampaikan dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2.    Anonim: Pencipta aslinya sudah tidak diketahui lagi.

3.    Bersifat Tradisional: Tersebar dalam bentuk relatif tetap atau standar di suatu kolektif.

4.    Bervariasi (Banyak Versi): Karena lisan, mudah berubah, sehingga muncul banyak versi cerita yang sama.

5.    Berpola/Berformula: Memiliki pola atau rumus baku, seperti kalimat pembuka ("Pada zaman dahulu...") atau ulangan.

6.    Memiliki Fungsi/Kegunaan: Bermanfaat sebagai alat pendidikan, pelipur lara, hiburan, atau protes sosial.

7.    Bersifat Pralogis: Mengandung logika yang tidak sesuai logika umum, seringkali dengan unsur magis.

8.    Milik Bersama (Kolektif): Dianggap sebagai milik seluruh masyarakat pemiliknya.

9.    Polos & Lugas: Seringkali terlihat sederhana, kasar, atau spontan. 

 

C.       Bentuk-bentuk Sastra Rakyat

1.      Mantra

2.      Pantun

1.        Mantra

2.        Pantun

Pantun merupakan puisi yang memiliki ciri-ciri berikut.

a.    Terdiri atas empat baris per bait: Setiap bait pantun tersusun dari empat larik atau baris.

b.    Suku Kata Teratur: Setiap baris pantun memiliki jumlah suku kata antara 8 hingga 12 suku kata.

c.    Pola Sajak a-b-a-b: Bunyi akhir setiap baris berpola a-b-a-b, artinya baris pertama bersajak dengan baris ketiga, dan baris kedua bersajak dengan baris keempat (misal: kebun/rabun, parang/terang).

d.   Sampiran dan Isi.

Sampiran: Baris pertama dan kedua yang berfungsi sebagai pengantar atau pembuka.

Isi: Baris ketiga dan keempat yang berisi pesan utama atau makna yang ingin disampaikan.

Contoh Pantun (untuk memahami strukturnya):

Jalan-jalan ke pasar baru (a)

Jangan lupa membeli pepaya (b)

Kalau kamu ingin tahu (a) (Isi)

            Lihatlah dengan mata kepala (b) (Isi) 

3.      Pantun Berkait

4.      Talibun

5.      Pantun Kilat

6.      Gurindam

7.      Syair

      Syair merupakan bentuk puisi klasik yang merupakan pengaruh kebudayaan Arab. Adapun ciri-ciri syair sebagai berikut.

a.    Terdiri 4 Baris per Bait: Setiap bait syair selalu memiliki empat baris (larik).

b.    Rima Akhir a-a-a-a: Bunyi akhir dari setiap baris pada satu bait sama semua (a-a-a-a).

c.    Semua Baris adalah Isi: Tidak ada sampiran seperti pada pantun; seluruh baris berisi makna atau pesan penting.

d.   Jumlah Suku Kata: Setiap baris umumnya memiliki 8 hingga 14 suku kata.

e.    Isi dan Makna: Berisi cerita (sejarah, agama, mitos), nasihat, petuah, atau perumpamaan (kiasan).

      f.  Bahasa Kiasan: Sering menggunakan bahasa yang tidak langsung (kiasan), seperti burung,       bunga, atau alam untuk menyampaikan pesan.

8.      Fabel

9.      Legenda